Tampilkan postingan dengan label senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2011

Pantai Pipitolo, Nagaroro (Pantai Batu Putih)

 Ada beberapa opsi yang aku, Mas Baktiar, Mas Kadek dan Mas Didimoezh bahas untuk hunting hari minggu. Diataranya ke Riung, ke Mauponggo dan ke Nangaroro. Pilihan akhirnya jatuh ke Nangaroro. Pertimbangannya di sana ada pantai batu putih. Tempat yang sama sekali belum pernah kami abadikan. Tentu lebih seru dan menantang.
Dengan menggunakan mobil pinjaman, kami berempat meluncur ke Nangararoro. Berhenti sebentar di daerah Aegela. Mengabadikan turunya hujan di kejauhan yang tergambar dengan jelas dan indah. 4 orang generasi penerus Nagekeo yang baru pulang gereja sore menghampiri kami. Meminta kami untuk memberikan mereka tumpangan ke kampung mereka yang jaraknya kira-kira 1km dari tempat kami memotret hujan. Kebetulan searah, okelah. Mereka kemudian turun di kampung mereka sambil tidak lupa mengucapkan terima kasih. Anak-anak yang baik.
Perjalanan berlanjut. Sampai di Nangaroro, kami memutuskan untuk parkir kendaraan dekat bibir pantai. Di sebuah sekolah dasar yang di bangun dekat dengan bibir pantai. Trekking di mulai. Charles, teman kami dari Nangaroro, ikut bergabung. Kami pun menelusiru pantai batu putih yang berada tepat di depan sekolah dasar tersebut.
Pantai yang indah. Sayang agak kotor. Seharusnya bisa di rawat dengan baik. Karena bisa juga menjadi potensi pariwisata yang unik. Unik, mengingat batu-batu putih tersebut munculnya baru dua tahun terakhir ini. Sebelumnya pantai ini adalah pantai berpasir. Warna putih memantulkan cahaya dengan sempurna. Kalau bersih, tentu lebih indah. Batu-batu putih tersebut hanya ada di sekitar pantai ini. Trekking di atas batu cukup menguras tenaga. Plus harus konsentrasi biar tidak terjatuh. Maklum batunya besar-besar dan cukup bulat bentuknya. Mudah tergelincir kalau kurang hati-hati. Kami trekking dan nongkrong di pantai ini sampai agak malam. Ingin mengabadikan petir yang silih berganti di kejauhan. Aku yang kurang beruntung. Petirnya keburu kabur hahahaha...
Penduduk Nangaroro mengenal pantai ini dengan nama Pantai PIPITOLO. Tempat yang menurut mereka cukup angker juga. Tentu dari cerita-cerita yang beredar berdasarkan kejadian atau fenomena ‘seram’ di sekitar pantai tersebut. Kami berprinsip, niat kami baik. Sudah permisi. Amanlah tentunya. Lancar jaya hehehehe... setan tidak mungkin mengganggu setan hahahahaha.... *lirik mas Baktiar*
Entah sampai kapan batu-batu putih itu akan menghiasi pantai ini. Yang pasti kami beruntung bisa mengabadikannya dari berbagai sudut. Saking semangat mengabadikan pantai ini, tangan mas Kadek cidera kecil, tergores pecahan botol yang ikutan nagkring di atas batu karang besar yang di jadikan tempat untuk memotret. Perawat Puskesmas Nangaroro, yang manis tentunya, merawat tangan mas Kadek dengan cukup baik. Aman.
Pantai batu putih, selalu di hati...

------>Nangaroro, 4 Desember 2011

Senja di Pelabuhan Ende

Ke Kota Ende. Untuk beberapa urusan. Urusan kantor dan urusan cinta hehehe...
Setelah satu urusan rampung, aku berpikir untuk mencari ‘bahan’ untuk di potret. Beruhubung urusannya berlanjut esok hari. Sekitar jam 4 sore aku memulai ‘pencarianku’. Keliling kota ende yang kecil. Beberapa bibir pantia ku kunjungi untuk medapatkan ‘titik’ terbaik. Cuaca yang kurang mendukung sedikit mengganggu pencarianku.
Add caption
Setelah berkeliling beberapa saat, perut mulai menunjukan gejala butuh ‘asupan’ logistik hehehehe... Bakso kotak menjadi pilihan untuk ‘merawat’ perutku ini. Semangkok bakso dan segelas teh hangat, plus sebatang dji sam soe memberikanku kekuatan lagi untuk melanjutkan pencarianku.
Mentok. Kalimat yang saat itu bermain di kepalaku. Atau aku yang kurang feel akibat kondisi cuaca. Dermaga Pelabuhan Ende akhirnya menjadi tujuan akhir untuk nongkrong. Sambil merokok tentunya. Menonton kecerian generasi penerus kota ende yang asik bermain sepeda di dermaga, loncat dari dermaga dan berenang ke tepian. Sungguh asik.
Setengah jam berlalu. Mendadak terjadi perubahan warna langit. Sebelumnya datar dan gelap, menjadi kemerahan dalam gulungan awan. Langit memang susah diprediksi keadaannya. Dan ini kesempatan yang tidak kusia-siakan tentunya.
Setengah jam mengabadikan senja di Pelabuhan Ende. Seadanya. Sesuai kemampuan... di bantu gradual ND dan grad-tobbacco TIAN YA...
Sebatang dji sam soe mengakhiri semuanya. Sambil menatap langit indah yang perlahan diselimuti malam. Pelabuhan Ende perlahan menjadi sepi. Tinggal riak ombak dan alunan suara musik melayu dari kapal barang yang sandar di dermaga. Saatnya pulang ke rumah.

------>Ende, 6 Desember 2011

Rabu, 07 Desember 2011

Tapaleuk di Rendu dan Kesidari



Tapaleuk Perbukitan Rendu 
Debu naik tinggi saat roda-roda truk menerobos jalan tanah kering berbatu. Debu nyaris menghalangi pendangan mata memaksa kami menutup kaca kendaraan. Tapi Pey yang mengendarai kendaraan yang kami tumpangi tetap melaju menembus bubungan debu jalan, menunjukkan kepiwaiannya yang sudah malang melintang dengan daerah Nagekeo yang penuh dengan jalan meliuk-liuk ini. 
Perjalanan ke Rendu yang melintasi jalur tengah merupakan jalan terdekat untuk menuju ke Bajawa, ibukota kabupaten Nagekeo ini memang dipenuhi dengan jalan naik turun dengan tikungan tajam mungkin karena daerah adalah kawasan perbukitan bebatuan, sepanjang jalan banyak diapit bukit-bukit berbatu yang telah terpotong. Jalannya pun banyak berupa jalan yang sempit sehingga kalau harus berpapasan dua kendaraan roda empat harus salah satu mengalah dahulu. 
Sekitar jam lima lewat dua puluh kami sampai di kawasan Rendu. Rendu ini merupakan kawasan perbukitan kosong yang sangat luas, daerah yang sangat cocok untuk dikembangkan sebagai kawasan ternak. Walaupun ketinggiannya sekitar 450 meter, namun rupanya Rendu bukanlah daerah subur. Meski masih terlihat kering namun rumput-rumput mulai tampak tumbuh menghijau. Hujan yang sekali dua turun beberapa waktu lalu kemungkinan penyebabnya. 
Dari Rendu ini bisa dilihat gunung Ebulobo yang sering tampak diselimuti awan bagian tengahnya dan gunung Inerie yang tampak bagai sebuah cungkup runcing segitiga. Menurut Didi yang pernah naik di kedua gunung, Ebulobo jauh lebih mudah didaki daripada Inerie karena gunung Inerie bagian atasnya lebih banyak dipenuhi pasir sehingga mudah longsor. 
Di atas salah satu bukit kami duduk-duduk menunggu senja turun. Matahari kuning sempat muncul sesaat sebelum awan menelannya kembali. Keasyikan menikmati senja di sini, entah sudah berapa banyak mangga yang masuk ke perutku. Mangga-mangga ini kami beli di pertengahan jalan menuju kesini, di daerah itu beberapa rumah yang punya mangga menjual mangganya di depan rumah, waktu itu yang menjual mangga seorang anak kecil perempuan. Ada sekitar dua puluh buah mangga, karena kami mendapat harga lima ribu rupiah per harga lima buah. Mangga-mangga ini rasanya manis bahkan walau masih keras, sehingga sedikit membuat aku dan yang lain agak lupa diri. Nanti setelah ini ada yang harus rela perutnya mulas karena sudah dalam kategori overdosis makan mangga hahaha. 
Setelah malam turun kami turun kembali ke Mbay, di rumah pak Ndus kami singgah dan ngobrol-ngobrol ditemani segelas kopi yang nikmat. Kadek sepertinya ketagihan sama kopi pak Ndus. Tanpa sadar jam 22.20 saat kami pamit dari rumah pak Ndus, suasana beranda rumahnya yang adem membuat kami jadi betah disana.


Tapaleuk Perbukitan Kesidari 
Ini adalah daerah yang paling sering aku kunjungi karena memang letaknya dekat dari Mbay. Dulunya kalau aku memotret disini sering aku tulis sebagai kawasan perbukitan Mbay, ternyata nama daerah ini adalah Kesidari. 
Besok sorenya, kami kembali tapaleuk ke kawasan perbukitan Mbay yang baru aku tahu namanya kalau daerah ini namanya Kesidari. Kalau kemarin kami hanya berempat maka kali ini mas Didi ikut serta, sayang Selvianto tidak bisa ikut karena sedang keluar kota untuk mempersiapkan pernikahannya. Di kawasan perbukitan Kesidari, kami memilih daerah yang cukup tinggi untuk bisa mendapatkan view senja. Sekarang kawasan perbukitan ini sering secara olok-olok kami sebut dengan TK (Tai Kerbau) karena memang banyak sekali ranjau tahi sapi di sepanjang perbukitan ini. 
Agak berbeda dengan dua minggu sebelumnya dimana kawasan ini lebih kering dengan rumput-rumput kering berwarna putih, sekarang telah tumbuh rumput-rumput hijau walau belum cukup rata. Hujan masih belum turun banyak sehingga belum semua daerah perbukitan hijau rata. Sore itu perbukitan di bawah tidak turun kabut seperti biasanya, langit sedang cerah walaupun di ujung barat matahari masih terhalang awan tipis. Bulan separuh tepat berada di atas kepala saat jam menunjukkan pukul enam sore. Berbeda dengan dua minggu kemarin yang saat matahari tenggelam di sisi timur bulan purnama kuning sebesar tempayah muncul di sebelah timur. 
Minggu pagi berikutnya, kami berempat, aku dengan Kadek, Eddy dan Didi kembali ke Kesidari dengan sepeda motor . Kali ini motor bergerak lebih jauh. Target kita kali ini adalah di kawasan perbukitan di sisi sebelah selatan bukit TK. Berangkat sekitar jam lima lewat tiga puluh pagi, aku yang hanya memakai rompi dan Kadek yang hanya berbaju kaos dalam putih harus rela kedinginan di boncengan saat motor-motor kami melintas ke arah perbukitan. Ini berbeda dengan penampilan Eddy dan Didi yang lengkap berjaket dan tas kamera model punggung. 
Kawasan Kesi deri ada banyak pohon yang baru belakangan baru kuketahui kalau itu adalah pohon Mengkudu hutan. Bentuk daunnya lebih kecil dibanding dengan daun Mengkudu pada umumnya, dan itu yang membuatku hampir tak mengenali. Buahnya yang bulat dan kecil-kecil juga berbeda, yang sama adalah motif dan bau buahnya. Sepertinya penduduk sekitar tidak memanfaatkan keberadaan pohon ini kecuali sekedar untuk kayu bakar, karena sepertinya pohon-pohon ini tumbuh liar. 
Kami sempat menelusuri perbukitan sampai kesisi miring menuju ke arah bawah lembah. Sisi bawah lembah ternyata banyak pepohonan, mungkin karena letaknya yang terlindungi sehingga bagian lembah tidak kering seperti bagian atas. Beberapa rombongan sapi melintas di kawasan perbukitan ini, baru kutahu kemudian bahwa masyarakat juga biasa tidak mengandangkan ternak melainkan hanya menggiring ternak-ternak ke lembah saja


Tulisan asli: Tapaleuk Nagekeo (Bagian I)

Jumat, 21 Oktober 2011

An Evening with Dio and Sheilla

Aku mulai merapikan berkas-berkas kerja dan laptop kesayanganku. Hari sudah cukup sore. Jam dinding di kantor dengan setelan waktu Nasional menunjukan pukul 04.30 WIB. Jam tanganku sendiri menunjukan pukul 05.00 WIB. Lebih cepat setengah jam. Biar tidak telat bangun pagi. Udara persawahan yang dingin di pagi hari membuatku bersahabat akrab degan selimut merah saat pagi menjelang hehehehehe..



Motorku memasuki kawasan pondok. “Aniiii.... Aniiii.... “, suara Dio dan sheilla memecah keheningan sawah di sore hari yang sedikit mendung. Mereka berdua biasa menyapaku dengan panggilan Ani. Panggilan sayang mereka buatku. Capek dan lelah langsung sirna saat melihat wajah lucu mereka berdua. Mereka menyambutku dengan gembira. Tujuan mereja jelas. Ani pasti membawa permen di dalam tas laptop. Jatah permen sore hari segera mereka tagih. Aku memberikan permen kepada mereka. Masing-masing 1 buah permen setelah terlebih dahulu meminta mereka mencium pipiku dan menyuruh kakak mereka, Marten, untuk memandikan mereka berdua, karena mereka berdua dekil sekali. Biasa. Anak sawah. Besar di sawah. Akrab dengan lumpur. Emas dan perak bagi kehidupan mereka.

Selesai berganti pakaian, aku mengambil kamera kesayanganku. Awan yang cukup indah menarik perhatian. Sayang sungguh sayang. Cahaya kurang. Awan yang tebal cukup menghalangi cahaya matahari. Hanya bisa buat foto siluet. Padahal pengen buat landscape yang terang. Komposisi awan yang bagus, menurutku sih hehehehe, masih menarik perhatiaku. Kebetulan Dio dan Sheilla telah selesai mandi. Sudah bersih dan segar. Cocok buat jadi pelengkap keindahan awan sore hari ini.

Ku ajak mereka bermain-main di pematang sawah. “Ayo, ani foto kamu dua eee...”. Dengan gembira Sheilla mengikutiku. Dio ku gendong. Sampai di tempat yang menurutku cukup pas, aku membiarkan mereka untuk bergaya. Sering melihatku memotret dan menjadi objek jepretanku, membuat mereka sudah terbiasa untuk bergaya. Tidak perlu susah-susah mengarahkannya. Anak kecil malah sangat natural untuk bergaya. Yang sedikit susah adalah, saat selesai di potret mereka harus melihat hasilnya. Sambil tertawa gembira. Dio pasti akan bilang, “tataaa...tataaa.....”(kakak)...sambil menunjuk wajahnya di LCD kamera. Maklum. Anak kecil. Belum kenal dirinya sendiri...hehehehe... Karakter wajah mungil mereka mulai kulukis dengan kameraku. Wajah yang polos dan penuh kegembiraan.

Sore kemudian melangkah pergi... berganti pekat yang mulai menghiasi malam. Dio, digendong kakaknya dan sheilla, mengandeng tanganku, kembali ke pondok tercinta kami. Oma sudah menyiapkan minum sore. Teh hangat. Sedapppp... sambil minum teh, mereka kusuapi makan malam. Bergantian. Setelah itu aku mandi.

Dua malaikat kecilku. Menemani hari-hariku di Mbay permai ini. Membangunkanku di pagi hari dan menyambutku saat pulang kantor. Selalu membuatku segar kembali setelah berpeluh dengan kesibukan rutinku. Bahagiaku bersama mereka... : )


----->Mbay, 20 Oktober 2011

Sabtu, 15 Oktober 2011

Dua Purnama di Marapokot, Nagekeo

Tanggal 14 Agustus 2011, sekitar jam 3 sore...


Mas Baktiar Sontani dan Mas Arief Papat , dalam penugasannya ke Nagekeo, menyempatkan waktunya untuk bersama-sama teman-teman NPC, hunting ke marapokot. Kampung nelayan dan pantai yang landai. Cuaca cukup cerah. Langit biru membentang dengan sedikit awan menghiasinya. 

Tujuan utama kegiatan hunting sore itu adalah belajar memotret. Sudah pasti Mas Baktiar Sontani lah yang menjadi guru kami. Kebetulan dia juga membawa 1 buah lensa tambahan, Samyang Fish Eye 8mm, Manual Lens. Beberapa trik dan teknik pengambilan gambar menggunakan lensa itu perlahan dia ajarkan sehingga komposisi tidak terlalu terganggu dengan distorsi lengkungan lensa yang sangat tinggi. 

Tentu saja dia dan Mas Arief Papat yang jadi korban pertama hehehehehe...
Selanjutnya sebuah perahu menjadi korban latihan berikutnya... Posisioning sangat penting untuk mendapatkan hasil yang baik. Cukup banyak shutter yang ‘melayang’ untuk bisa menemukan komposisi terbaik...



Mas Baktiar kemudian menawarkan suatu komposisi untuk di coba. Menjepret lengkungan ombak saat hendak pecah dengan menggunakan lensa Fish Aye. Untuk komposisi yang satu ini saya harus rela basah dan siap-siap kehilangan kamera. Karena saya harus masuk ke dalam laut dan berdiri sejajar dengan ombak yang akan pecah. Resiko kamera terkena air laut di depan mata. Oleh karena itu timing benar-benar di atur. Untuk komposisi yang satu ini hasil yang di peroleh belum maksimal. Yaaahhh... rasa takut kehilangan kamera mengalahkan keberanianku. Tetap saya mencoba menampilkan 1 hasil jepretan komposisi tersebut dari sekian jepretan yang gatot alias gagal total, walau seadanya, sekedar untuk lebih memacu semangat saya jika nanti punya lensa Fish Eye sendiri hehehehe...*www.entahkapan.com*

Perlahan senja menghampiri kami..
Beberapa jepretan untuk senja dan 1 jepretan untuk di tampilkan...

Setelah cukup gelap teman-teman NPC menemani Mas Baktiar dan Mas Arief Papat untuk berbuka puasa. Kebetulan pas bulan puasa. Saya sendirian menanti purnama yang akan terbit saat itu (bagian dari planning hunting kami). Sekitar jam 7an malam, purnama mulai menampakan keindahannya di atas horison laut sawu yang membentang luas di hadapanku. Aku segera mengabari mereka lewat Sh
ort Massage. Pelajaran berikutnya adalah menjepret purnama. Hasilnya pernah Mas Baktiar tampilkan dalam catatanya juga. Saya ingin menampilkan hasilnya yang berbeda warna. Karena kami sempat mencona-coba warna diffuser flash untuk ‘mewarnai’ jepretan kami secara langsung. Kecepatan, apertur dan white balance diatur sesuai arahan Mas Baktiar. Hasilnya sungguh mempesona. Bangga memiliki guru yang luar biasa dalam berbagi dan berkarya...



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tanggal 14 Oktober 2011, sekitar jam 5 sore...


Mas Kadek Maharta Kusuma, dalam penugasannya juga ke Nagekeo, saya ajak untuk hunting purnama lagi, walau kami sendiri dalam kondisi yang sangat-sangat sibuk. Kali ini kami berdua saja. Satu bulan belakangan ini ternyata kami berdua sama-sama kena penyakit ‘bad mood’ fotografi. Bad feel membuat semangat memotret jadi turun drastis. Apalagi untuk komposisi Landscape. Oleh karenanya kami mencoba membangkitkan semangat itu, di sore hari kemarin.


Beberapa jepretan sunset di padang mengawali hunting purnama kami. Lumayan, feel mulai tumbuh dengan komposisi siluet. Saling melihat hasil dan sama-sama memperbaikinya. Sama-sama belajar.


Sebuah jepretan untuk Mas Kadek, degan latar belakang senja.

Sebelum ke tempat yang kami tuju, kami mampir di dermaga utama, menyusuri tepian pantanya, untuk beberapa jepretan perahu dalam senja.

Selanjutnya kami menuju ke TKP. Karena purnama diperkirakan masih sekitar sejam lagi dari waktu kami sampai ke sana, kami berdua kemudian menghabiskan waktu dengan bersantai dan minum black coffe di warteg terdekat. Beberapa batang rokok menemani obrolan kami. Obrolan seputar fotografi dan tentu saja seputar cewek. Topik yang selalu hangat hehehehe...
Kurang lebih 10 menit sebelum purnama terbit (estimasi waktu orang kampung nelayan dan sangat tepat), kami mencari posisi yang pas di pinggir pantai untuk memotret. Setelah ber

jalan-jalan dan melihat-lihat, sebuah perahu yang cukup dekat dengan bibir pantai menjadi objek utama kami untuk ‘menemani’ purnama. Bedanya, dulu pakai lensa Fish Eye, sekarang pakai lensa bawaan alias KIT forever after hehehehehe... Bermodalkan 1 buah tripod kami beraksi.Bergantian. Saling membantu menembakan flash ke objek perahu untuk mendapatkan cahaya maksimal, karena berbeda dengan saat bersama Mas Baktiar dahulu, ada cukup cahaya dari lampu petromax nelayan yang memperbaiki perahunya tepat di belakang kami.
Beberapa jepretan untuk perahu dan purnama yang indah dengan beberapa sudut yang berbeda. Tentu saja menggunakan komposisi yang pernah diajarkan Mas Baktiar Sontani.



Bulan semakin tinggi. Peralatan segera kami kemas. Sambil berjalan menuju ke sepeda motor yang setia menanti kami Mas Kadek bilang sama saya kalau dia baru kali ini melihat indahnya purnama saat terbit di horison hamparan laut. Dan dia senang sekali. Saya juga tentu senang dapat mewujudkan keinginannya untuk memperoleh moment indah ini. Sampai lupa membelikan makan malam buat Mas Leon yang menanti di Hotel... hahahahaha...
Dan seandainya ada cewek yang menemani kami... tentu asoyyy dan romantisssss...hahahahaha....
Dua purnama di marapokot. Bersama para sahabat. Membuatku semakin mencintai fotografi. Mencintai alam yang menyediakan keindahan bagi kita, dan mencintai Sang Pencipta semua keindahan ini. Dan aku membagi keindahan ini buat teman-teman sekalian yang mungkin tidak pernah mengalaminya secara langsung. Dan tentu saja ada maksud ‘implisit’. Bahwa inilah Mbay kami yang indah... mbay kami yang masih asri... mbay kami tercinta... semoga lestari selalu keindahan ini... tidak rusak di’makan’ jaman...
mari kita jaga bersama...
sehingga purnama akan tetap selalu indah disini...
selamanya...


Mbay, 15 Oktober 2011.....