Tampilkan postingan dengan label Flores. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flores. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Desember 2011

Ritual adu fisik ala Nagekeo

Pertarungan fisik selalu selalu di identikan dengan simbol keperkasaan seseorang. Mungkin jika ada yang kalah , lantas berdarah-darah, semua orang mencemoohkannya. Atau jika sang pemenang mengangkat kedua tangan sebagai tanda kemenangan, sontak yang menonton langsung bertepuk tangan,semuanya larut dalam suasana saling cibir, atau saling mengangungkan sang jagoan. Cerita selanjutnya bisa jadi yang kalah akan menyimpan dendam yang teramat sangat, atau sebaliknya malah penonton yang saling bertarung. 
 
Namun,cerita seperti itu tidak akan terjadi jika sang jagoan berlaga dalam arena “Etu”, tinju adat di masyarakat Nagekeo, sebuah kabupaten baru mekaran dari kabupaten Ngada pada tahun 2006. Bagi masyarakat suku Nagekeo yang berada tepat di tengah pulau flores ini, etu adalah simbol keakrabaan dan persaudaraan.Etu adalah kesenian tradisional yang memperagakan adu ketangkasan antara para pria dewasa di wilayah persekutuan adat Nagekeo dan sekitarnya. Permainan adu ketangkasan ini selain merupakan arena pentas kesenian tetapi juga merupakan ritual adat untuk melengkapi siklus kehidupan masyarakat adat Nagekeo.
 
Menurut salah satu pemuka adat Nagekeo di kampung Boawae, Syrilus Bau Engo, etu telah dipentaskan sejak puluhan tahun silam secara turun temurun. Namun, tidak ada satu sumber pun yang menyebutkan secara pasti sejak kapan etu mulai dipentaskan. Diperkirakan, kegiatan ini mulai dipentaskan sejak masyarakat persekutuan adat tidak lagi terlibat dalam perang antar suku (papa wika). Ada versi yang menerangkan bahwa kegiatan ini dibuat sebagai salah satu persembahan darah kepada bumi (ibu pertiwi), sehingga bukan hal yang baru jika ada petinju yang keluar dari arena dengan wajah lebam bardarah-darah. Diyakini oleh mereka, luka yang diderita akan segera sembuh jika di sentuh oleh tabib kampung.
 

 
 Jika dikaitkan dengan kelender adat, etu biasa dipentaskan pada musim kemarau, atau pada masa senggang sesudah panen. Selama masa itu, etu dipentaskan pada beberapa kampung adat yang memiliki adat tinju yang dipegang salah satu suku yang mendiami kampung tersebut dan biasa disebut “moi buku ‘etu” (pemegang adat tinju). Giliran antar kampung ditentukan waktunya sesui perhitungan yang mendasarkan pada peredaran bulan sehingga etu selalu dipentaskan pada saat bulan purnama. Para petarung akan memasuki sebuah arena di tengah kampung yang disebut “kisa nata”. Arena tempat tinju dibatasi oleh pagar dari tonggak kayu yang dirangkaikan dengan tali sehingga menjadi semacam ring tinju berlantai tanah yang dalam bahasa adat disebut “mada  Mada membujur sesuai dengan tata letak kampung adat. Penonton yang menyaksikan etu berdiri di luar mada.Jangan berharap perempuan ada disekitar mada, karena sudah tentu itu adalah hal yang “pamali” bagi sang petinju.
Jelang beberapa hari pada saat bulan terang sebelum tinju, digelarkan kegiatan pemanasan dan ajang latihan bagi petinju – petinju pemula, sekaligus pengumuman bahwa di kampung tersebut akan digelarkan etu. Selanjutnya, malam menjelang etu dipentaskan, seluruh masyrakat adat menggelar tarian dan nyanyian.  Rangkaian kegiatan ini adalah ungkapan yang menggambarkan tentang budidaya tanam padi sejak kerinduan menantikan kedatangan hujan sampai saat panen.  Menariknya, dalam tradisi ini , kaum muda mudi dapat menjadikannya sebagi ajang perkenalan. Sang pemuda akan melempar pantunnya, yang kemudian akan dibalas oleh sang pemudi. Sepanjang malam, kaum tua dan muda akan larut dalam tarian dan nyanyian. Pagi – pagi sekali, pemegang adat tinju dan seluruh anggota suku yang laki – laki pergi ke “loka lanu” yaitu tempat berkumpul untuk menyampaikan persembahan kepada Tuhan dan para leluhur sambil memohon keselamatan bagi para petinju, sehingga para petinju yang terluka cepat sembuh dan dalam kenyataannya, luka karena bertinju adat, paling lama tiga hari sudah sembuh. Sesudah upacara persembahan dan doa di loka lanu mereka akan menuju kampung sambil menyanyi dan menari. Sampai dikampung akan melakukan semacam seremoni pembukaan dengan pura – pura bertinju dengan seseorang sebagai tanda bahwa acara tinju dapat dimulai. 
 Para penonton mulai berdatangan. Tidak sampai satu jam, arena etu sudah dipadati para penonton dari berbagai penjuru kampung. Ada juga yang datang dari luar kampung.Kebanyakan dari mereka memakai sarung adat, sedangkan kaum lelaki mengenakan ikat kepala. Disini, penonton tidak perlu ragu kemana harus mencari pengganjal perut jika lapar. Hidangan cuma-cuma akan diberkan kepada siapapun yang datang. Masayrakat adat di sekitar kampung akan menjemput dang mengajak kita menikmati makanan yang telah disiapkan di setiap rumah.

Penonton semakin tidak sabar menjejal di sekitar arena.Dari ujung arena, sang petinju mulai kelihatan.Petinju ini akan dikawal oleh seorang “Moi sike”. Dia  berfungsi menjaga agar petinju tidak jatuh dan kadang kala bisa membantu menangkis pukulan yang diarahkan ke arah perut petinju. Orang ini harus lincah mengikuti gerak gerik petinju ketika menyerang maupun menghindari pukulan lawan. Moi sike harus maju dan mundur seirama dengan petinju.

Kedua petinju pun mulai diperhadapakan oleh “moi seka”.Orang inilah yang akan bertindak sebagai wasit, sekaligus juri. Tidak seperti petinju yang kebanyakan kita tonton, disini para petinju akan dipasang kain pengalas dada, ikat pinggang dari kain, dan ikat kepala. Yang terakhir adalah alat meninju lawan atau dalam bahasa setempat disebut “keppo”. Tidak seperti sarung tinju para profesional, alat gebuk ini berupa tali ijuk yang dipilin kecil-kecil, selanjutnya di gumpal kira-kira pas dalam genggaman. Permukaan keppo kasar, siapapun yang terkena pukulan benda ini pasti akan berdarah.


 Kedua petinju mulai merengsek maju ketika wasit menepuk tangan. Satu dua pukulan mulai dilontarkan, jauh dari kesan seorang petinju profesional. Moi sike terlihat kerepotan menarik kain pinggang masing-masing petinju ketika mereka mulai terbakar emosi. Sebuah pukulan telak berhasil didaratkan salah satu petinju di wajah lawan.. Wasit langsung memisahkan keduanya. Petinju yang berhasil mendaratkan bogem mentahnya terlihat bangga, sambil melompat-lompat kegirangan, sesekali menepuk dada. Pihak lawan tak puas. Pertarungan kembali dilajutkan. Jual beli pukulan terjadi.Pelukan, saling tarik, menambah panas suasana. Teriakan penonton semakin membakar emosi sang petarung. Wasit pun tidak mau ambil resiko, pertandingan pun diakhiri. Seorang petinju dinyatakan sebagai pemenang. Kedua petinju di giring oleh sang wasit. Disini jelas kelihatan semuanya akan berakhir dengan perdamaian. Kedua petinju saling berpelukan. Luka dan darah di wajah ternyata bukan pemicu dendam di luar pertandingan. Sorak penonton mengiring sang jagoan keluar dari arena.”Kami bertinju untuk berdamai”, ujar sang petinju sambil melambaikan tangannya kepada penonton.
 Pertarungan berikutnya mulai dipersiapkan. “Mosa laki” mulai melirik para pemuda di masing-masing kubu petinju.. Mereka ini ibarat “promotor” yang mencari para petinju yang ingin mengadu ketangkasan sebagai petinju adat di tengah arena. Biasanya ada jago – jago tinju dari masing – masing kampung. Kejelian para mosalaki lah yang mempertemukan mereka di tengah arena. Caranya macam – macam, mulai dengan membujuk secara baik - baik, memanas – manasi bahkan kadang – kadang dipaksa dan diseret  ke “ring”. Pada saat mosa laki sedang mencari petinju dan para pembantu menyiapkan petinju untuk tampil di arena, masyarakat dihibur dengan kesenian “melo ‘etu”. Ini adalah kesenian rakyat yang terdiri dari tarian dan nyanyian diiringi tetabuhan dari sebatang bambu yang diletakan didepan sekelompok penyanyi lagu adat sambil memukul – mukulnya dengan batang kayu. Mereka akan bernyanyi bersahut – sahutan dengan seorang penari yang berfungsi sebagai solois dan dirigen . Syair lagu berisikan kata – kata pujian dan nasihat bagi para petinju. Pada saat petinju sedang bertinju, rombongan melo etu  beristirahat. 
 Kegiatan tinju dan melo etu akan terus digelarkan secara bergantian sampai tidak ada lagi petinju yang mau bertinju. Hari menjelang senja, sesepuh adat menyiramkan satu tempurung air ke tengah – tengah arena sebagai tanda orang harus bubar dan kembali ke kampung masing – masing untuk nonton lagi ke kampung – kampung lain yang ada adat tinju sesuai giliran waktu yang sudah ditentukan sesuai peredaan bulan.
 Selamat menyaksikan.......
 Bapak Syrilus Bau Engo, narasumber dalam tulisan ini.


Kamis, 08 Desember 2011

Pantai Pipitolo, Nagaroro (Pantai Batu Putih)

 Ada beberapa opsi yang aku, Mas Baktiar, Mas Kadek dan Mas Didimoezh bahas untuk hunting hari minggu. Diataranya ke Riung, ke Mauponggo dan ke Nangaroro. Pilihan akhirnya jatuh ke Nangaroro. Pertimbangannya di sana ada pantai batu putih. Tempat yang sama sekali belum pernah kami abadikan. Tentu lebih seru dan menantang.
Dengan menggunakan mobil pinjaman, kami berempat meluncur ke Nangararoro. Berhenti sebentar di daerah Aegela. Mengabadikan turunya hujan di kejauhan yang tergambar dengan jelas dan indah. 4 orang generasi penerus Nagekeo yang baru pulang gereja sore menghampiri kami. Meminta kami untuk memberikan mereka tumpangan ke kampung mereka yang jaraknya kira-kira 1km dari tempat kami memotret hujan. Kebetulan searah, okelah. Mereka kemudian turun di kampung mereka sambil tidak lupa mengucapkan terima kasih. Anak-anak yang baik.
Perjalanan berlanjut. Sampai di Nangaroro, kami memutuskan untuk parkir kendaraan dekat bibir pantai. Di sebuah sekolah dasar yang di bangun dekat dengan bibir pantai. Trekking di mulai. Charles, teman kami dari Nangaroro, ikut bergabung. Kami pun menelusiru pantai batu putih yang berada tepat di depan sekolah dasar tersebut.
Pantai yang indah. Sayang agak kotor. Seharusnya bisa di rawat dengan baik. Karena bisa juga menjadi potensi pariwisata yang unik. Unik, mengingat batu-batu putih tersebut munculnya baru dua tahun terakhir ini. Sebelumnya pantai ini adalah pantai berpasir. Warna putih memantulkan cahaya dengan sempurna. Kalau bersih, tentu lebih indah. Batu-batu putih tersebut hanya ada di sekitar pantai ini. Trekking di atas batu cukup menguras tenaga. Plus harus konsentrasi biar tidak terjatuh. Maklum batunya besar-besar dan cukup bulat bentuknya. Mudah tergelincir kalau kurang hati-hati. Kami trekking dan nongkrong di pantai ini sampai agak malam. Ingin mengabadikan petir yang silih berganti di kejauhan. Aku yang kurang beruntung. Petirnya keburu kabur hahahaha...
Penduduk Nangaroro mengenal pantai ini dengan nama Pantai PIPITOLO. Tempat yang menurut mereka cukup angker juga. Tentu dari cerita-cerita yang beredar berdasarkan kejadian atau fenomena ‘seram’ di sekitar pantai tersebut. Kami berprinsip, niat kami baik. Sudah permisi. Amanlah tentunya. Lancar jaya hehehehe... setan tidak mungkin mengganggu setan hahahahaha.... *lirik mas Baktiar*
Entah sampai kapan batu-batu putih itu akan menghiasi pantai ini. Yang pasti kami beruntung bisa mengabadikannya dari berbagai sudut. Saking semangat mengabadikan pantai ini, tangan mas Kadek cidera kecil, tergores pecahan botol yang ikutan nagkring di atas batu karang besar yang di jadikan tempat untuk memotret. Perawat Puskesmas Nangaroro, yang manis tentunya, merawat tangan mas Kadek dengan cukup baik. Aman.
Pantai batu putih, selalu di hati...

------>Nangaroro, 4 Desember 2011

Rabu, 07 Desember 2011

Tapaleuk di Rendu dan Kesidari



Tapaleuk Perbukitan Rendu 
Debu naik tinggi saat roda-roda truk menerobos jalan tanah kering berbatu. Debu nyaris menghalangi pendangan mata memaksa kami menutup kaca kendaraan. Tapi Pey yang mengendarai kendaraan yang kami tumpangi tetap melaju menembus bubungan debu jalan, menunjukkan kepiwaiannya yang sudah malang melintang dengan daerah Nagekeo yang penuh dengan jalan meliuk-liuk ini. 
Perjalanan ke Rendu yang melintasi jalur tengah merupakan jalan terdekat untuk menuju ke Bajawa, ibukota kabupaten Nagekeo ini memang dipenuhi dengan jalan naik turun dengan tikungan tajam mungkin karena daerah adalah kawasan perbukitan bebatuan, sepanjang jalan banyak diapit bukit-bukit berbatu yang telah terpotong. Jalannya pun banyak berupa jalan yang sempit sehingga kalau harus berpapasan dua kendaraan roda empat harus salah satu mengalah dahulu. 
Sekitar jam lima lewat dua puluh kami sampai di kawasan Rendu. Rendu ini merupakan kawasan perbukitan kosong yang sangat luas, daerah yang sangat cocok untuk dikembangkan sebagai kawasan ternak. Walaupun ketinggiannya sekitar 450 meter, namun rupanya Rendu bukanlah daerah subur. Meski masih terlihat kering namun rumput-rumput mulai tampak tumbuh menghijau. Hujan yang sekali dua turun beberapa waktu lalu kemungkinan penyebabnya. 
Dari Rendu ini bisa dilihat gunung Ebulobo yang sering tampak diselimuti awan bagian tengahnya dan gunung Inerie yang tampak bagai sebuah cungkup runcing segitiga. Menurut Didi yang pernah naik di kedua gunung, Ebulobo jauh lebih mudah didaki daripada Inerie karena gunung Inerie bagian atasnya lebih banyak dipenuhi pasir sehingga mudah longsor. 
Di atas salah satu bukit kami duduk-duduk menunggu senja turun. Matahari kuning sempat muncul sesaat sebelum awan menelannya kembali. Keasyikan menikmati senja di sini, entah sudah berapa banyak mangga yang masuk ke perutku. Mangga-mangga ini kami beli di pertengahan jalan menuju kesini, di daerah itu beberapa rumah yang punya mangga menjual mangganya di depan rumah, waktu itu yang menjual mangga seorang anak kecil perempuan. Ada sekitar dua puluh buah mangga, karena kami mendapat harga lima ribu rupiah per harga lima buah. Mangga-mangga ini rasanya manis bahkan walau masih keras, sehingga sedikit membuat aku dan yang lain agak lupa diri. Nanti setelah ini ada yang harus rela perutnya mulas karena sudah dalam kategori overdosis makan mangga hahaha. 
Setelah malam turun kami turun kembali ke Mbay, di rumah pak Ndus kami singgah dan ngobrol-ngobrol ditemani segelas kopi yang nikmat. Kadek sepertinya ketagihan sama kopi pak Ndus. Tanpa sadar jam 22.20 saat kami pamit dari rumah pak Ndus, suasana beranda rumahnya yang adem membuat kami jadi betah disana.


Tapaleuk Perbukitan Kesidari 
Ini adalah daerah yang paling sering aku kunjungi karena memang letaknya dekat dari Mbay. Dulunya kalau aku memotret disini sering aku tulis sebagai kawasan perbukitan Mbay, ternyata nama daerah ini adalah Kesidari. 
Besok sorenya, kami kembali tapaleuk ke kawasan perbukitan Mbay yang baru aku tahu namanya kalau daerah ini namanya Kesidari. Kalau kemarin kami hanya berempat maka kali ini mas Didi ikut serta, sayang Selvianto tidak bisa ikut karena sedang keluar kota untuk mempersiapkan pernikahannya. Di kawasan perbukitan Kesidari, kami memilih daerah yang cukup tinggi untuk bisa mendapatkan view senja. Sekarang kawasan perbukitan ini sering secara olok-olok kami sebut dengan TK (Tai Kerbau) karena memang banyak sekali ranjau tahi sapi di sepanjang perbukitan ini. 
Agak berbeda dengan dua minggu sebelumnya dimana kawasan ini lebih kering dengan rumput-rumput kering berwarna putih, sekarang telah tumbuh rumput-rumput hijau walau belum cukup rata. Hujan masih belum turun banyak sehingga belum semua daerah perbukitan hijau rata. Sore itu perbukitan di bawah tidak turun kabut seperti biasanya, langit sedang cerah walaupun di ujung barat matahari masih terhalang awan tipis. Bulan separuh tepat berada di atas kepala saat jam menunjukkan pukul enam sore. Berbeda dengan dua minggu kemarin yang saat matahari tenggelam di sisi timur bulan purnama kuning sebesar tempayah muncul di sebelah timur. 
Minggu pagi berikutnya, kami berempat, aku dengan Kadek, Eddy dan Didi kembali ke Kesidari dengan sepeda motor . Kali ini motor bergerak lebih jauh. Target kita kali ini adalah di kawasan perbukitan di sisi sebelah selatan bukit TK. Berangkat sekitar jam lima lewat tiga puluh pagi, aku yang hanya memakai rompi dan Kadek yang hanya berbaju kaos dalam putih harus rela kedinginan di boncengan saat motor-motor kami melintas ke arah perbukitan. Ini berbeda dengan penampilan Eddy dan Didi yang lengkap berjaket dan tas kamera model punggung. 
Kawasan Kesi deri ada banyak pohon yang baru belakangan baru kuketahui kalau itu adalah pohon Mengkudu hutan. Bentuk daunnya lebih kecil dibanding dengan daun Mengkudu pada umumnya, dan itu yang membuatku hampir tak mengenali. Buahnya yang bulat dan kecil-kecil juga berbeda, yang sama adalah motif dan bau buahnya. Sepertinya penduduk sekitar tidak memanfaatkan keberadaan pohon ini kecuali sekedar untuk kayu bakar, karena sepertinya pohon-pohon ini tumbuh liar. 
Kami sempat menelusuri perbukitan sampai kesisi miring menuju ke arah bawah lembah. Sisi bawah lembah ternyata banyak pepohonan, mungkin karena letaknya yang terlindungi sehingga bagian lembah tidak kering seperti bagian atas. Beberapa rombongan sapi melintas di kawasan perbukitan ini, baru kutahu kemudian bahwa masyarakat juga biasa tidak mengandangkan ternak melainkan hanya menggiring ternak-ternak ke lembah saja


Tulisan asli: Tapaleuk Nagekeo (Bagian I)

Selasa, 01 November 2011

Eksotika Pantai Selatan Nagekeo

Eksotika pantai selatan

Kecamatan Mauponggo terletak di wilayah pantai selatan dari Kabupaten Nagekeo. Topografi dengan perbukitan yang menjulang tinggi adalah sebuah daya tarik tersendiri. Tak hanya itu, garis pantai yang membujur sepanjang Mauponggo menjadi primadona bagi masyarakatnya. Selain sebagai tempat pencari nafkah bagi kaum nelayan, pantai Mauponggo merupakan salah satu destinasi wisata Kabupaten Nagekeo.






Sebenarnya , bukan niat awal saya untuk “backpacker” dikawasan pantai Mauponggo.Namun, setelah memenuhi undangan Romo Rus di Wolosambi dan menyerahkan sejumlah dokumen hasil liputan, naluri jurnalis saya kembali muncul, siapa tahu ada sesuatu yang bisa diobservasi.  Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari Wolosambi, saya sudah memasuki Mauponggo. Perut yang mulai keroncong memaksa saya dan seorang sahabat jurnalis saya,Mr. Rowand ,dari salah satu media India, mencari sebuah warung di area pasar.Rupanya, bahasa tubuh sahabat saya lebih tertarik dengan para penjual ikan. Akhirnya kami putuskan membeli seekor ikan segar sebagai menu siang kami. Sempat kaget ketika penjual mengatakan limabelas ribu rupiah untuk ikan seberat 2 kilo yang kami tawar. Cukup murah jika saya membandingkan harga ikan di Mauponggo dengan Mbay-Ibukota Nagekeo.
Sengaja kami memilih sebuah kawasan pantai untuk menjalankan aksi "barbque." Dipantai inilah, mata kami seakan tidak berkedip menatap pecahan ombak di antara bebatuan. Pantai Ena, adalah salah satu lokasi wisata yang mulai digalakan oleh pemerintah Nagekeo.Pasir putihnya yang bersih membuat kami ingin berlama-lama disitu.

Kawasan pantai selatan Mauponggo lebih didominasi oleh bebatuan. Sedikit kearah barat kita akan sampai di Maukeli, sebuah desa kecil yang sangat asri dengan persawahannya. Pantai ditempat ini hampir seluruhnya di dominasi batu –batu karang. Sedikit lagi ke arah barat, terdapat sebuah kawasan air terjun dengan suasananya yang sangat sejuk. Sungguh sebuah perpaduan alam yang sangat sayang untuk dilewatkan. Apalagi, sepanjang jalan terdapat aliran-aliran kali kecil yang begitu menggoda untuk di sentuh.

 Ombak pantai selatan bisa dibilang sedikir “ganas” dibandingkan ombak pantai utara. Cukup sulit bagi saya mencari spot gambar di antara batu-batu karang. Belum lagi cahaya disiang terik yang mengharuskan saya mencari sebuah komposisi yang seimbang. Untungnya, sedikit tertolong dengan filter ND8 dan CPL yang jarang terpakai. Walaupun terasa sedikit memaksakan dengan kondisi peralatan kamera yang belum sempurna, sudah cukup bagi saya mengabadikan sejumlah objek di kawasan pantai selatan Mauponggo.

Referensi bagi anda yang ingin mengunjungi Pantai Mauponggo :

  • Logsitik bisa disiapkan ala kadarnya,karena ikan segar yang murah meriah  dipasar Mauponggo bisa dijadikan lauk istimewa.
  • Tidak membutuhkan banyak biaya transportasi jika anda berkunjung dari Bajawa atau Mbay. Sekedar referensi : saya berangkat dari Mbay menggunakan motor 2 tak 135 cc, dengan mengisi bensin Rp.30.000 (PP). Oli pelumas 2T 1 kaleng(untuk PP hanya menghabiskan setengah tanki oli). Kecepatan rata-rata 80km/jam dengan lama temupuh kurang dari 2 jam.
  • Kondisi jalan hotmix,sebagian masih dalam perbaikan.
  • Biaya trasnpot kendaraan umum dari Mbay-ibukota Nagekeo Rp.35.000 – Rp.40.000
  • Terdapat sejumlah pondok tempat berteduh di kawasan pantai Ena.
  • Ada sekitar tiga buah warung kecil di kawasan pasar yang dibuka sejak jam 8 pagi sampai jam 5 sore. 
 
  Bersama Mr.Rowand

Sabtu, 15 Oktober 2011

Dua Purnama di Marapokot, Nagekeo

Tanggal 14 Agustus 2011, sekitar jam 3 sore...


Mas Baktiar Sontani dan Mas Arief Papat , dalam penugasannya ke Nagekeo, menyempatkan waktunya untuk bersama-sama teman-teman NPC, hunting ke marapokot. Kampung nelayan dan pantai yang landai. Cuaca cukup cerah. Langit biru membentang dengan sedikit awan menghiasinya. 

Tujuan utama kegiatan hunting sore itu adalah belajar memotret. Sudah pasti Mas Baktiar Sontani lah yang menjadi guru kami. Kebetulan dia juga membawa 1 buah lensa tambahan, Samyang Fish Eye 8mm, Manual Lens. Beberapa trik dan teknik pengambilan gambar menggunakan lensa itu perlahan dia ajarkan sehingga komposisi tidak terlalu terganggu dengan distorsi lengkungan lensa yang sangat tinggi. 

Tentu saja dia dan Mas Arief Papat yang jadi korban pertama hehehehehe...
Selanjutnya sebuah perahu menjadi korban latihan berikutnya... Posisioning sangat penting untuk mendapatkan hasil yang baik. Cukup banyak shutter yang ‘melayang’ untuk bisa menemukan komposisi terbaik...



Mas Baktiar kemudian menawarkan suatu komposisi untuk di coba. Menjepret lengkungan ombak saat hendak pecah dengan menggunakan lensa Fish Aye. Untuk komposisi yang satu ini saya harus rela basah dan siap-siap kehilangan kamera. Karena saya harus masuk ke dalam laut dan berdiri sejajar dengan ombak yang akan pecah. Resiko kamera terkena air laut di depan mata. Oleh karena itu timing benar-benar di atur. Untuk komposisi yang satu ini hasil yang di peroleh belum maksimal. Yaaahhh... rasa takut kehilangan kamera mengalahkan keberanianku. Tetap saya mencoba menampilkan 1 hasil jepretan komposisi tersebut dari sekian jepretan yang gatot alias gagal total, walau seadanya, sekedar untuk lebih memacu semangat saya jika nanti punya lensa Fish Eye sendiri hehehehe...*www.entahkapan.com*

Perlahan senja menghampiri kami..
Beberapa jepretan untuk senja dan 1 jepretan untuk di tampilkan...

Setelah cukup gelap teman-teman NPC menemani Mas Baktiar dan Mas Arief Papat untuk berbuka puasa. Kebetulan pas bulan puasa. Saya sendirian menanti purnama yang akan terbit saat itu (bagian dari planning hunting kami). Sekitar jam 7an malam, purnama mulai menampakan keindahannya di atas horison laut sawu yang membentang luas di hadapanku. Aku segera mengabari mereka lewat Sh
ort Massage. Pelajaran berikutnya adalah menjepret purnama. Hasilnya pernah Mas Baktiar tampilkan dalam catatanya juga. Saya ingin menampilkan hasilnya yang berbeda warna. Karena kami sempat mencona-coba warna diffuser flash untuk ‘mewarnai’ jepretan kami secara langsung. Kecepatan, apertur dan white balance diatur sesuai arahan Mas Baktiar. Hasilnya sungguh mempesona. Bangga memiliki guru yang luar biasa dalam berbagi dan berkarya...



------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tanggal 14 Oktober 2011, sekitar jam 5 sore...


Mas Kadek Maharta Kusuma, dalam penugasannya juga ke Nagekeo, saya ajak untuk hunting purnama lagi, walau kami sendiri dalam kondisi yang sangat-sangat sibuk. Kali ini kami berdua saja. Satu bulan belakangan ini ternyata kami berdua sama-sama kena penyakit ‘bad mood’ fotografi. Bad feel membuat semangat memotret jadi turun drastis. Apalagi untuk komposisi Landscape. Oleh karenanya kami mencoba membangkitkan semangat itu, di sore hari kemarin.


Beberapa jepretan sunset di padang mengawali hunting purnama kami. Lumayan, feel mulai tumbuh dengan komposisi siluet. Saling melihat hasil dan sama-sama memperbaikinya. Sama-sama belajar.


Sebuah jepretan untuk Mas Kadek, degan latar belakang senja.

Sebelum ke tempat yang kami tuju, kami mampir di dermaga utama, menyusuri tepian pantanya, untuk beberapa jepretan perahu dalam senja.

Selanjutnya kami menuju ke TKP. Karena purnama diperkirakan masih sekitar sejam lagi dari waktu kami sampai ke sana, kami berdua kemudian menghabiskan waktu dengan bersantai dan minum black coffe di warteg terdekat. Beberapa batang rokok menemani obrolan kami. Obrolan seputar fotografi dan tentu saja seputar cewek. Topik yang selalu hangat hehehehe...
Kurang lebih 10 menit sebelum purnama terbit (estimasi waktu orang kampung nelayan dan sangat tepat), kami mencari posisi yang pas di pinggir pantai untuk memotret. Setelah ber

jalan-jalan dan melihat-lihat, sebuah perahu yang cukup dekat dengan bibir pantai menjadi objek utama kami untuk ‘menemani’ purnama. Bedanya, dulu pakai lensa Fish Eye, sekarang pakai lensa bawaan alias KIT forever after hehehehehe... Bermodalkan 1 buah tripod kami beraksi.Bergantian. Saling membantu menembakan flash ke objek perahu untuk mendapatkan cahaya maksimal, karena berbeda dengan saat bersama Mas Baktiar dahulu, ada cukup cahaya dari lampu petromax nelayan yang memperbaiki perahunya tepat di belakang kami.
Beberapa jepretan untuk perahu dan purnama yang indah dengan beberapa sudut yang berbeda. Tentu saja menggunakan komposisi yang pernah diajarkan Mas Baktiar Sontani.



Bulan semakin tinggi. Peralatan segera kami kemas. Sambil berjalan menuju ke sepeda motor yang setia menanti kami Mas Kadek bilang sama saya kalau dia baru kali ini melihat indahnya purnama saat terbit di horison hamparan laut. Dan dia senang sekali. Saya juga tentu senang dapat mewujudkan keinginannya untuk memperoleh moment indah ini. Sampai lupa membelikan makan malam buat Mas Leon yang menanti di Hotel... hahahahaha...
Dan seandainya ada cewek yang menemani kami... tentu asoyyy dan romantisssss...hahahahaha....
Dua purnama di marapokot. Bersama para sahabat. Membuatku semakin mencintai fotografi. Mencintai alam yang menyediakan keindahan bagi kita, dan mencintai Sang Pencipta semua keindahan ini. Dan aku membagi keindahan ini buat teman-teman sekalian yang mungkin tidak pernah mengalaminya secara langsung. Dan tentu saja ada maksud ‘implisit’. Bahwa inilah Mbay kami yang indah... mbay kami yang masih asri... mbay kami tercinta... semoga lestari selalu keindahan ini... tidak rusak di’makan’ jaman...
mari kita jaga bersama...
sehingga purnama akan tetap selalu indah disini...
selamanya...


Mbay, 15 Oktober 2011.....

Selasa, 13 September 2011

Tracking Ngaba Tata

Actually, I have heard what is called ”Ngaba Tata”, a place where a waterfall is located in southern part of Aesesa sub district, Nagekeo Regency. Since 2008, I have been living in Mbay, the capital of Nagekeo Regency,  i got so many stories from various sources about this beautiful scenic. But unfortunately, I’ ve never got the stories specifically from tourism office of Nagekeo. Even, most of the stories said that it is hard to reach the place because of its topography. This make Ngaba Tata, tourism destination of Nagekeo  has not been recorded both visual and picturing. 

As for me, those various stories toward the existence of Ngaba Tata can be the asset for tracking on weekend.  Eventually, on Friday (8/9/2011), I invited two of my friends are Didimoez Ozora and Maxi Sile tried to reach Ngaba Tata. We went by Boanio, a village is approximately 22 km away from Mbay.
Afterwards, we leaved on Jawa Tiwa Village by motorcycles. It reaches 12 km From Boanio. The road is bumpy. Even tough, There is also an alternative road from  Raja to Jawa Tiwa, but we think it is closer from Boanio.
 Several minutes later, we entered Jawa Tiwa village. We met a kindly local people. He handled us to the waterfall of Ngaba Tata. We went on our trip by feet trough the house of village head. 500 meters away, We saw this Waterfall by the slope. We stepped forward, got down the slope. The road is extreme, stepping carefully on the stones. Roofs and stem were held to keep from falling and we hanged  over like ‘Tarzan’. Mostly an hour later, we could touch the place.

We got tiring, but it was all gone out by freezing of Ngaba Tata Waterfall The height of the waterfall reaches 40 meters. The bottom of the waterfall is in pool form with 20m2 in size. According to the residents there, the big stones which cover the waterfall happened by the shaking of earthquake in Maumere on 1991. The residents also told that, there was a big stones covered on the waterfall, it is likely a roof. The story Ngaba Tata is named after this big stone. In local language, “Ngaba” means “slope” and “Tata” means “top”. 

The water which flows over Ngaba Tata derives from the spring of “Lambo”. Then, the river collides with The river of Aesesa in Aemali District. The debit of the river can be triply when rainy season. 

If you are fond of tracking, you may spend your time in Ngaba Tata. Ngaba Tata is one of the tourism objects which is most interesting. We will also see some beautiful scenic across the waterfall to Aesesesa. According to the residents, there is no myth from this place. But for the visitors are required to keep and save the place before returning. Let’s keep and save our world and nature from the disorder. Nagekeo,…….4 ur beautifulness. 
 Trekking Of Ngaba Tata.
Teks and Photo by. Yanto Mana Tappi (NPC)

Selasa, 06 September 2011

Menyapa pagi dari puncak Ebulobo

 Siapapun yang melintas di Kecamatan Boawae,Kabupaten Nagekeo, matanya akan tertuju pada  puncak Gunung Ebulobo. Mungkin anda juga salahsatunya yang penasaran untuk bisa menaklukakn ketinggiannya. Saya pun demikian, setiap kali melintas di wilayah Boawae, sekedar istirahat sebentar saya membayangkan bagaimana jika suatu kelak bisa memandang dunia dari puncak itu.

Hingga suatu hari, di tanggal 28 Agustus 2011, saya bersama dua orang sahabat membulatkan tekad untuk menaklukan satu-satunya gunung berapi di Nagekeo itu. Lumayan,  tanggal merah yang tercetak di kelender hari itu, sejenak bisa dijadikan waktu berleha-leha bersama sahabat NPC(NagePhotoClub) . Hitung-hitung sekedar hunting mentari pagi dari puncak Ebulobo.
Sabtu sore ekspedisi kecil kami mulai bergerak dari Mbay menuju Boaawae. Hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam, kami sudah berada di sebuah warung Boawae untuk mengisi “Megazine” alias perut. 
 Ebulobo dari depan warung Boawae

“Nasi ikan dua ya bu, jangan lupa STMJ satu dan teh panas dua ”, Andris,sahabatku mengejutkan sang pelayanan yang kelihatan lagi melongo dengan “kontainer” bawaan kami. Maklum, empat buah ransel besar berikut dua buah tripot mengambil alih fungsi meja warung.”Jangan pakai lama ya “, lanjut Didimoezh yang diikuti wajah cemberut sang pelayan. Ya, beginilah sikap backpacker NPC kalau sudah “sakaw”.
Tak lama kemudian, bery-beryku berdering. Ya, itulah sebutan buat ponselku yang tak mau kalah dengan kemewahan blackberry. Wily, sahabatku sms, katanya dia sudah siap menunggu di Desa Mulakoli. Inilah sahabatku yang siap menjadi guide buat kami ke puncak Ebulobo. Setelah cash dan menyambar sebungkus kretek di warung, kami melanjutkan perjalanan ke Desa Mulakoli. Disinlah pendakian akan di mulai. Desa Mulakoli tepat berada dikaki Gunung Ebulobo. Jaraknya dari Boawae hanya sekitar 8km.Namun jalannya yang mendaki dan berlubang-lubang terasa seperti  belasan kilometer.

 Puncak Ebulobo dari Desa Mulakoli

Jam delapan malam kami sudah berada dirumah wily. Walaupun hanya di bawah penerangan lentera kecil, suasana kekeluargaan begitu terasa. Tidak menunggu lama empat cangkir kopi kental muncul. Sruupppp….kopi panas cukup mengusir hembusan dingin dari celah dinding. Setelah sedikit ngobrol dan menyiapkan empat buah senter, kami pun beristirahat. Alarm disetel ke pukul 2.30. Pukul tiga dinihari adalah waktu pendakian nyang kami tentukan. Sepertinya kami bertiga cukup susah memjamkan mata. Bayangan puncak Ebulobo terus mengusik rasa kantuk.
Rasanya baru sebentar saja beristirahat, alarm sudah memanggil di tengah kegelapan ruang tamu. Tidak menunggu lama, empat buah ransel  berpindah ke masing-masing pundak . Saya dan Didimoezh kebagian ransel kamera dan tripot. Sementara Andris dan Wily harus berjibaku dengan ransel logistik. Maklum, delapan botol besar air mineral berikut sejumlah corned cukup terasa berat. Belum lagi tabung gas kecil yang akan dipakai sebagai alat masak menjadikan Andris tenggelam dibalik ransel.
Salah satu keluarga Wily akhirnya memilih untuk ikut bersama kami. Walaupun dia sendiri merupakan penduduk di Desa Mulakoli,namun malam itu adalah pengalaman pertamanya ke Ebulobo. G-shock ku menunjukan angka 02.50. GPS Garmin Colorado 300 di start dari Rumah Wily.
Perlahan namun pasti kami mulai merayapi punggung Ebulobo dari arah timur. Satu jam berlalu, rasa lelah mulai terasa. Jarak kami mulai sedikit berjauhan, seperti membentuk dua kelompok.  Saya dan Andris berada paling belakang. Ada sekitar empat titik pendakian yang terasa melelahkan. Kami harus merayap perlahan memegang pada  rumput dan ranting pohon . GPS baru menunjukan ketinggian 1000m. Perasan lelah bercampur putus asa mulai mengalir. Bagaimana tidak, data yang saya search di Google menunjukan ketinggian Ebulobo 2300m, sedangkan kami baru sampai diketinggian 1000m. Arlojiku sudah menunjukan pukul 04.15. Oh my God….. tinggal satu jam saja untuk bisa menyaksikan aurora pagi. Kurang lebih satu jam berlalu terdengar hembusan daun-daun cemara. Tanaman di ketinggian ini seperti menjadi pembakar semangat.  “Seribu enam ratus bro”, teriak Andris dihadapan cahaya GPS. Sepertinya sahabatku ini sedang membaca pikiranku. Wily juga tak mau kalah, dari depan dia teriak,masih tiga kilo lagi. Gila….! Yang benar aja. Matematikaku mulai jalan, elevasi Ebulobo ini bisa 45 derajat, data Google 2100m, saat ini kami di ketinggian 1600m lebih. Mungkin, kalau dikira-kira masih ada satu kilo meter lagi. Benar saja, seiring langit mulai kemerahan, kami mulai memasuki area bebatuan. Kalau di pandang dari kaki gunung, kawasan bebatuan sudah mendekati puncak.


 Siluet Andris sebelum menjelang mentari terbit

“Mantap bro…”, teriak Andris diarah depan sambil menunjuk kearah saya dan Didimoezh. Ternyata gulungan awan yang indah ada di belakang kami. Sungguh tidak terasa, putus asa bercampur kelelahan membawa kami ke sebuah negeri diatas awan. Tidak menunggu lama, saya dan Didimoezh memasang tripot dan camera. Spot pengambilan gambar sudah tidak diperhatikan lagi,yang penting aurora ini tidak terlewatkan. Matahari masih malu-malu menununjukan ujudnya. Awan yang berarak cepat ibarat gelombang samudera yang saling berkejaran. Sayangnya, rencana “Slow Speed” harus gagal, pasalnya filter gradND tidak dibawa.


Mentari pagi dari puncak Ebulobo

“ Selamat pagi dunia”, ucapku dalam hati seiring naiknya mentari pagi. Setelah mengambil beberapa gambar, kembali kami melanjutkan pendakian ke puncak. Batu-batu lepas dengan kemiringan hampir mencapai 50 derajat  membuat kami harus lebih berhati-hati. Rombongan kami sempat berpapasan dengan rombongan lain yang mengantar seorang turis Yunani. Pukul 09.00 kami sudah sampai di pinggiran kawah. Aroma belerang sempat menyesakan dada. Sangat disarankan untuk memakai masker saat mendekati kawah.  Apabila kita ingin melihat pemandang dari berbagai penjuru mata angin, kita harus mengitari lereng-lereng puncak.

 Menyusuri lereng kawah Ebulobo

. Ada sebuah gua kecil, sayangnya burung wallet penghuni gua ini telah diusik oleh tangan-tangan jahil. Ke arah timur kita dapat memandang puncak bukit Lambo. Sedikit ke selatan kita dapat melihat puncak gunung Ia di Ende. Tengok ke barat, mata kita akan tertuju ke puncak gunung Inerie di Kabupaten Ngada.

 Puncak Inerie dari Ebulobo

Puncak yang paling tertinggi di Gunung Ebulobo-Andris front camera-Background Mauponggo&Maumbawa.

.Perbukitan Kecamatan Mbay-Kecamatan Aesesa

Desa Boloroga-Mauponggo


Puncak Bukit Lambo

Sebuah Salib yang belum ditahu keberadaannya sejak kapan.

Setelah beristirahat sejenak sambil mengabadikan beberapa obyek, kembali kami menuruni lereng di bagian timur. Saatnya mencari tempat di bawah naungan pohon untuk mengisi perut. Logistik mulai dikeluarkan satu persatu. Sosis, corned dan biskuit menjadi hidangan santap siang kami. Ada yang sedikit unik di lakukan oleh Andris. Alat las digunakan sebagai pemanas corned. Alhasil, corned hangus rasa kaleng menjadi makanan dengan cita rasa unik.




Sekitar jam satu kami kembali pulang. Tidak mau dengan resiko jari-jari kaki lecet, satu persatu sepatu mulai di tanggalkan. Sayangnya, binatang-binatang hutan tidak nampak satupun dalam perjalanan pulang. Hanya sesekali terdengar kicau burung dari kejauhan.Mungkin karena jauh dari sumber air, gunung Ebulobo bukanlah  surga buat para satwa. Desa Mulakoli semakin dekat, Puncak Ebulobo pun semakin jauh di belakang meninggalkan jejak kekaguman. Terimakasih Tuhan, indah ciptaanMu untuk Nagekeo.


Photo narsis Didimoezh menuruni Gunung Ebulobo-kreasi bersama picture style update from MaumerePhotographerClub.

Photo and teks by.Yanto Mana Tappi (NagePhotoClub).